Sejumlah Warga Negara Belanda Kunjungi Tanah Kelahirannya Kabupaten PALI, Napak Tilas Kedigdayaan Tempo Doeloe

Photo Author
Budi Parabola, Rekomkita
- Rabu, 3 April 2024 | 06:36 WIB
Beberapa warga negara Belanda yang berkunjung ke Desa Talang Akar Kabupaten PALI pada tahun 2014. Mereka berpose di Danau Konger (Rekomkita)
Beberapa warga negara Belanda yang berkunjung ke Desa Talang Akar Kabupaten PALI pada tahun 2014. Mereka berpose di Danau Konger (Rekomkita)

 

 
REKOMKITA- Sebuah fakta sejarah menunjukkan, jika nama besar Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sudah terkenal di era awal kemerdekaan.
 
Kabupaten PALI dulunya terkenal di saentero negeri dengan namanya Pendopo Talang Akar. Kemudian di era tahun 80 an terkenal dengan namanya Talang ubi gaya lame, tahun 2000 an dengan sebutan Pendopo Talang ubi.
 
Barulah pada tahun 2013 nama Kabupaten PALI resmi menjadi Daerah Otonom Baru (DOB) sebuah nama unik yang menggambarkan daerah-daerah kecamatan di wilayah Kabupaten PALI, yakni masyarakat yang mendiami kawasan Penukal, Abab dan kawasan Lematang Ilir.
 
"Dulu orang taunya Pendopo itu Pendopo Talang Akar. Kalau kita naik taksi dari Palembang, mau kemana mau ke Pendopo Talang Akar, Mengapa? karena mata bor minyak pertama di Asia itu ada di Desa Talang Akar," ujar Nirwan Syarif (71) salah satu saksi hidup yang mengetahui sejarah perminyakan di Kabupaten PALI khususnya Desa Talang Akar.
 
Nirwan Syarif sendiri lahir pada tahun 1951 yang merupakan mantan Sekretaris Desa Talang Akar yang sudah mengabdi 18 tahun di Pemerintahan sejak era kepemimpinan Kriye (sebutan pemimpin desa sebelum pesirah).
 
Bahkan, dia menuturkan jika sunatnya juga dilakukan di Rumah Sakit yang ada di Desa Talang Akar tempo dulu.
 
Banyak cerita yang bisa digali dari seorang Nirwan Syarif, salah satunya perihal orang-orang belanda yang lahir di Desa Talang Akar.
 
Diceritakan oleh Nirwan Syarif jika pada tahun 2014 ada beberapa orang Belanda yang sengaja datang ke Desa Talang Akar.
 
"Dulu jalannya masih berlumpur. Mereka kesini ingin melihat kenangan masa kecilnya. Talang Akar adalah tanah leluhurnya, Tempat kelahiran mereka," cerita Nirwan Syarif.
 
 
"Saat tiba di sini (Talang Akar) mereka minta temani berkeliling Talang Akar. Mereka masih ingat saat kecil main di pesanggrahan, kakinya terkena benda tajam seraya menunjukkan bekas luka di kaki mereka," cerita Nirwan Syarif.
 
Nirwan Syarif berpose bersama warga negara Belanda di Danau Konger dekat Desa Talang Akar
 
Menurut Nirwan Syarif, orang-orang Belanda tersebut tidak fasih lagi menggunakan bahasa Indonesia.
 
"Mereka orang-orang Belanda bawa penerjemah. Mereka juga bercerita saat di Belanda mereka terus mencari keberadaan dimana Pendopo Talang Akar," ceritanya.
 
 
 
 
 
 

Editor: Budi Parabola

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X