REKOMKITA- Penyakit Diabetes adalah salah satu penyakit yang berbahaya dalam dunia kesehatan.
Penyakit Diabetes melitus tipe 1 terjadi karena penyakit autoimun yang menyebabkan pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Sementara itu, diabetes melitus tipe 2 muncul sebagai efek dari pola makan tidak sehat karena tidak bisa mengontrol asupan gula yang masuk dalam tubuh.
Salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit diabetes, yakni terlalu sering mengkonsumsi Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK).
Melansir Mediakeuangan-Menkeu, Laporan Center For Indonesia Strategic Development Iniatitives (CISDI) mencatat konsumsi MBDK meningkat sebanyak 15 kali lipat dalam dua dekade terakhir, yaitu dari 51 juta liter pada tahun 1996 menjadi 780 juta liter pada 2014. Indonesia pun dinobatkan sebagai negara ke-3 dengan konsumsi MBDK terbanyak di Asia Tenggara pada 2020.
Asupan gula berlebih, termasuk lewat konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) menyebabkan surplus kalori yang berakibat pada obesitas. Kandungan gula dalam MBDK sangat tinggi dan tergolong mudah dikonsumsi berlebih karena tidak menimbulkan rasa kenyang. Sebagai contoh, satu teh kemasan rasa buah dengan takaran saji 350 ml mengandung 42 gram gula. Sementara anjuran Kemenkes untuk konsumsi harian gula per orang adalah 10% dari total rata-rata kebutuhan kalori manusia yang sebesar 2000 kalori, yakni sebanyak 200 kalori atau tidak lebih dari 50 gram gula atau setara 4 sendok makan per hari. Dengan meneguk 3 porsi teh kemasan tersebut, 600 kalori sudah masuk ke dalam tubuh, belum lagi ditambah makanan dan camilan manis lainnya. Otomatis terjadi surplus kalori. Kebiasaan tersebut jika terus berlanjut menyebabkan obesitas.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)-diselenggarakan per lima tahunan- yang dirilis terakhir pada 2018 menunjukkan setidaknya 61,27% penduduk mengonsumsi minimal satu jenis MBDK per hari. Riset juga mencatat persentase penduduk Indonesia dengan obesitas meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir dari 10,3% pada 2007 menjadi 21,8% pada 2018.
Risiko prevalensi diabetes menjadi ancaman tak terelakkan bagi dunia, termasuk Indonesia. Prevalensi diabetes di Indonesia kian melonjak dari tahun ke tahun. Data Riskesdas menunjukkan hanya dalam kurun 5 tahun (2013-2018) prevalensi diabetes naik sebesar 30%. Sementara data Atlas IDF ke-10 memperkirakan prevalensi diabetes di Indonesia pada kelompok usia 20 s.d. 79 tahun mencapai 10,6% atau sebanyak hampir 20 juta orang. Artinya, di antara 9 orang penduduk dengan usia antara 20 hingga 79 tahun, terdapat 1 orang penderita diabetes, terdiagnosis ataupun tidak.
Parahnya, bahaya diabetes tidak hanya mengintai orang dewasa tapi juga anak-anak. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hingga 31 Januari 2023, prevalensi kasus diabetes pada anak telah meningkat 70 kali lipat. Dengan hampir 60% penderitanya adalah anak perempuan.