peristiwa

Waspada Diabetes, Gaya Hidup Anak Zaman Sekarang yang Suka Minum Berpemanis Kemasan

Jumat, 5 April 2024 | 16:36 WIB
Anak zaman sekarang suka minum berpemanis kemasan dapat menyebabkan Diabetes (Pexels, gambar ilustrasi)
 
REKOMKITA- Minuman pemanis di era sekarang sangat mudah kita jumpai. Tidak hanya mudah dijumpai, tapi juga harganya yang mudah terjangkau.
 
Minuman berpemanis utamanya dalam kemasan bisa kita jumpai baik di warung-warung maupun minimarket-minimarket.
 
Tulus Abadi, yang merupakan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, gaya hidup dan pola makan tidak sehat pada anak, khususnya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan sudah dalam taraf sangat mengkhawatirkan.
 
Dia berujar, Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) merupakan semua produk minuman dalam kemasan yang berpemanis. Baik berpemanis gula, maupun yang mengandung bahan tambahan pemanis yang lain. Dalam bentuk cair, konsentrat (yang perlu dilarutkan), maupun bubuk (yang perlu diseduh).
 
Kata Tulus, produk-produk tersebut dapat berupa namun tidak terbatas pada minuman berkarbonasi, berenergi, sari buah kemasan, minuman isotonik, minuman herbal dan bervitamin, susu berperisa, teh dan kopi kemasan, kental manis, dan sirup.
 
“Saat ini pola konsumsi anak-anak di Indonesia mengarah kepada pola hidup yang sangat tidak sehat, yaitu gemar mengkonsumsi minuman manis dalam kemasan,” ujar Tulus seperti dilansir dari Mediakeuangan-Menkeu.
 
Baca Juga: Diabetes Mengintai Anak-Anak Kita, Kurangi Minuman Kemasan Berpemanis
 
Konsumsi MBDK oleh anak-anak di Indonesia terpotret gamblang oleh YLKI dalam survei “Konsumsi Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) di 10 Kota” pada medio 2023. Survei dilakukan di Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Balikpapan, Makassar, dan Kupang.  
 
Dari survei tersebut, terbukti 26% anak usia kurang dari 17 tahun mengonsumsi MBDK setiap hari. Bahkan 31,6% anak mengonsumsi MBDK sebanyak 2 hingga 6 kali seminggu.
 
Di sisi lain, akses pembelian MBDK menjadi salah satu pendorong utama anak dan remaja mengonsumsi MBDK. Anak-anak bisa membeli produk-produk MBDK hanya dalam jarak 2 sampai 10 menit dari tempatnya berada. Seperti di warung, minimarket, supermarket, bahkan rumah sakit dan sekolah.
 
Dalam survei tersebut, 78% responden memahami konsumsi MBDK akan mengakibatkan obesitas. Bahkan 81% memaklumi konsumsi MBDK berdampak terhadap kesehatan jangka panjang. Namun, pengetahuan akan risiko kesehatan akibat konsumsi MBDK tak menghentikan mereka untuk mengonsumsinya.
 
Menurut Tulus, penomena ini menyiratkan minuman berpemanis telah menjadi candu bahkan semenjak usia dini. Dan edukasi saja tidaklah cukup untuk mencegah masa depan anak-anak Indonesia tergerus lebih dalam di pusaran adiksi gula berlebih. Sebab itu, tak bisa dipungkiri, pengendalian konsumsi MBDK urgen dan membutuhkan intervensi negara.
 
“Pengendalian konsumsi MBDK itu menjadi hal yang sangat mendesak karena sudah nyata terlihat bahwa tingkat konsumsi MBDK pada anak dan remaja sangat tinggi,” ujar Tulus.
 
Sumber: Mediakeuangan-Menkeu

Tags

Terkini

Kapolda Bangka Belitung Serius Berantas Geng Motor

Rabu, 15 Januari 2025 | 12:28 WIB