peristiwa

Syekh Siti Jenar Membangun Pesantren di Sebuah Desa yang Bernama Lemah Abang

Senin, 3 Juni 2024 | 09:02 WIB
Syekh Siti Jenar (sejarah citebon)

REKOMKITA - Beberapa sejarawan dan Budayawan bahkan beberapa Ulama dalam Islam, meyakini bahwa Istilah Islam Abangan sudah melenceng dari makna asalnya. 

Islam Abangan menurut pendapat ini mulanya adalah orang-orang Islam yang justru menolak sistem kebudayaan Jawa yang bertentangan dalam Islam. 

Dahulu di Jawa, pada abad ke 15-16 masih mengelompokan manusia Jawa secara sosial dan budaya menjadi dua bagian, yaitu Gusti dan Kaula. 

Gusti maksudnya kelompok para raja, sultan dan para pejabat tinggi keraton lainnya, sementara kaula dihuni oleh rakyat biasa.

Baca Juga: Seberapa Banyak Api yang Ada di Dalam Bumi yang Saat Ini Kita Pijar ???

Golongan Gusti adalah pemilik tanah, agama, rakyat bahkan seluruh yang terkandung di dalam negara, sementara kaula hanya sebagai benda hidup yang pada hakikatnya kepunyaan para Gusti.

Sehingga kapanpun bagi seorang kaula harus menyembah, berbakti dan menuruti kaum Gusti tanpa mempunyai hak terhadap sesuatu secara khusus, mereka hidup hanya numpang pada kaum Gusti, karena tanah, rumah dan bahkan istri maupun anak mereka adalah hak milik para gusti. 

Oleh Syekh Siti Jenar pembagian manusia Jawa yang semacam itu ditentangnya, dalam ajarannya tidak ada perbedaan yang mendasar dalam kehidupan sosial antara Gusti dan Kaula.

Sebab bagi Syekh Siti Jenar gusti dan kaula itu hakikatnya sama “Manunggaling Kaula ln Gusti” sama-sama mempunyai hak untuk memiliki tanah, keluarga dan agama. Tidak boleh seorang Gusti memiliki dan merampas hak-hak dari seorang kaula karena bertentangan dengan Islam.

Baca Juga: Para Arkeologi Temukan Goa Penuh Dengan Lukisan Hewan yang Berusia 27.000 Tahun Dibawah Permukaan Laut

Dalam mengajarkan ajaran-ajarannya, Syekh Siti Jenar membangun pesantrennya di sebuah Desa yang bernama Lemah Abang. Pengikutnya kelak dinamakan sebagai orang Islam Abangan. Dinamakan demikian karena pengikutnya belajar Islam di daerah yang bernama Abang atau Lemah Abang.

Citra Islam Abangan menjadi buruk seiring lahirnya cap negatif terhadap Syekh Siti Jenar oleh para Gusti yang menguasai pemerintahan di balik tembok Keraton. 

Beberapa naskah sejarah seperti beberapa babad yang ditulis oleh kaum Gusti menambah buruknya citra Islam Abangan. Islam jenis itu dianggap sebagai orang-orang Islam yang selalu membangkang pada aturan yang ditetapkan oleh para Gusti. Maka mulai setelah itu istilah Islam Abangan dicap sebagai kelompok orang-orang Islam yang tidak taat pada agama dan raja.

Tags

Terkini

Kapolda Bangka Belitung Serius Berantas Geng Motor

Rabu, 15 Januari 2025 | 12:28 WIB