Tragedi Nambi yang kemudian dituding sebagai pemberontakan terjadi pada 1316 Masehi. Baik Nagarakertagama maupun Pararaton menyinggung perihal peristiwa berdarah ini, bahkan dijabarkan lebih lengkap dalam Kidung Sorandaka,peristiwa yang menimpa Nambi dan para pengikutnya di Lamajang (Lumajang) termasuk gerakan pergolakan terbesar dalam sejarah Kerajaan Majapahit.
Tahun 1316 itu, Nambi meminta izin untuk pergi ke Lamajang karena di sana ayahnya sakit keras. Mengenai siapa ayah Nambi, terdapat beberapa versi yang berbeda. Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut ayahanda Nambi adalah Arya Wiraraja yang berarti Nambi adalah saudara Ranggalawe.
Sementara Kidung Sorandaka mencatat bahwa ayah Nambi bernama Pranaraja. Temuan ini memunculkan dugaan bahwa Wiraraja dan Pranaraja adalah orang yang sama, meskipun belum dapat dipastikan kebenarannya.
Wiraraja adalah ayah Ranggalawe, sedangkan Pranaraja ayahanda Nambi. Hal ini dikuatkan dengan penemuan Prasasti Kudadu berangka tahun 1294 yang mengungkapkan bahwa Wiraraja dan Pranaraja adalah tokoh yang berbeda meskipun keduanya sama-sama punya jabatan penting di Kerajaan Singasari pada era Kertanegara dalam periode yang sama.
Cerita Nambi yang meminta izin ke Lamajang juga terkait dengan teori bahwa ayah Nambi adalah Pranaraja, bukan Arya Wiraraja. Dikisahkan, Pranaraja yang berasal dari Daha (Kediri) bermaksud ke Lamajang untuk menemui kawan lamanya, yakni Arya Wiraraja, ayah Ranggalawe. Tiba di Lamajang, Pranaraja yang memang sudah lanjut usia jatuh sakit, dan kabar tersebut sampai ke Majapahit. Maka, ditemani oleh beberapa pejabat Majapahit dan pengikutnya, Nambi bergegas ke Lamajang untuk mengetahui kondisi sang ayah.
Nambi terlambat. Ayahnya ternyata sudah meninggal dunia saat ia sampai di Lamajang. Kabar duka ini pun segera sampai ke Majapahit. Halayuda atas nama kerajaan datang melayat ke Lamajang untuk menyampaikan ucapan belasungkawa dari Raja Jayanagara. Halayuda menyarankan kepada Nambi untuk memperpanjang masa izinnya agar bisa mengurus kematian sang ayah sembari menenangkan diri sebelum bekerja kembali.
Nambi setuju dan berterimakasih sudah diberi kelonggaran. Balik ke Majapahit, Halayuda mengatakan hal yang berbeda kepada Jayanagara. Nambi disebut menolak kembali ke ibu kota dan dugaan rencana pemberontakan pun dibisikkan oleh Halayuda. Prabu Jayanagara terhasut dan murka. Dicatat Pararaton, Jayanagara memerintahkan Halayuda memimpin pasukan ke Lamajang untuk menumpas Nambi. Sementara menurut Nagarakertagama, komandan tertinggi operasi militer tersebut adalah Jayanagara sendiri.
Di Lamajang, Nambi sama sekali tidak menyadari apa yang bakal terjadi. Ketika mendapatkan kabar bahwa pasukan Majapahit bakal datang menyerang, Nambi jelas terkejut. Nambi sempat mendirikan benteng pertahanan di dua titik, yakni di Gending dan Pejarakan. Namun, pasukan Majapahit yang cukup besar mampu menghancurkan kedua benteng tersebut. Nambi dan para pengikutnya bertahan habis-habisan, namun akhirnya tidak sanggup lagi menahan terjangan pasukan Majapahit. Menurut Pararaton, Nambi gugur di dalam benteng akibat dikeroyok oleh para panglima perang Majapahit. Begitu pula dengan seluruh pengikut dan keluarganya.
Lantas, siapa pengganti posisi Nambi di Majapahit?
Dikutip lempengan tembaga Sidateka bertarikh tahun saka 1245 atau 1323 Masehi menyatakan bahwa yang menjadi Mahapatih Majapahit adalah Dyah Halayuda. Runtuhnya Lamajang dikisahkan oleh Pararaton dengan menyebut tahun saka Naganahutwulan, sedangkan Negarakertagama mengatakan tahun Muktigunapaksarupa.
Dua versi ini menunjukkan tahun yang sama, yakni 1238 Saka atau 1316 Masehi. Di tahun 1316 ini pula, Arya Wiraraja sang penguasa Lamajang meninggal dunia. Tragedi yang menimpa Nambi sekaligus kejatuhan Lamajang ini nantinya memantik pergolakan di sejumlah kota-kota pelabuhan milik Majapahit, termasuk Pasadeng (Sadeng) dan Patukangan (Ketha) yang merupakan wilayah Lamajang Tigang Juru yang dulu dirintis oleh Arya Wiraraja. Kematian Nambi nantinya terbalas melalui pemberontakan Sadeng dan Ketha yang sempat membuat Majapahit goyang.
Dalam naskah Paraton dan Kidung Sorandaka, Dyah Halayuda identik dengan tokoh “Mahapatih“. “Maha” bermakna besar sedangkan “Patih” bermakna penguasa. Mahapati bukanlah nama asli melainkan julukan yang diberikan oleh pengarang Paraton dan Kidung Sondaraka untuk mencerminkan watak Dyah Halayuda yang licik.