Pararaton juga menyebutkan abu Tribuwana disemayamkan di Candi Pantrapura di Desa Panggih sedangkan suaminya meninggal pada 1386 dan abunya disemayamkan di Candi Sarwa Jayapura di desa Japan.
Yang pasti, Tribuwana Tunggadewi menjadi satu dari sedikit sosok yang mendapatkan kekuasaan dengan cara damai bahkan harus setengah dipaksa. Dia pun rela melepas kekuasaan itu. Sebuah sikap langka karena sejarah mencatat banyak sekali pergantian raja nusantara yang diwarnai pertumpahan darah dan saling intrik.