Kata Peneliti BRIN Soal Fenomena Demo Terhadap Organisasi Sipil Seperti Kontras, YLBHI dan ICW

Photo Author
Budi Parabola, Rekomkita
- Sabtu, 23 Maret 2024 | 14:42 WIB
ICW menggelar forum diskusi dengan menghadirkan peneliti BRIN (ICW)
ICW menggelar forum diskusi dengan menghadirkan peneliti BRIN (ICW)
 
REKOMKITA- Beberapa waktu yang lalu sejumlah organisasi Sipil atau NGO seperti Kontras, YLBHI dan ICW didemo oleh sekelompok orang.
 
Atas fenomena aksi tersebut, Indonesia Corruption Watch (ICW) melaksanakan diskusi publik bertajuk “Omon-Omon Demokrasi dan Fenomena Zombie Activism”.
 
Diskusi  yang bertajuk, Omon-Omon Demokrasi tersebut dilakukan pihak ICW dan disiarkan secara langsung di Youtube Sahabat ICW pada hari Sabtu 09 Maret 2024.
 
Melansir situs resmi ICW, Tema ini dipilih sebagai bentuk analisa atas berbagai fenomena, salah satunya upaya represi kebebasan sipil melalui demo yang dialami di beberapa kantor NGO pegiat demokrasi yang sebelumnya melontarkan narasi menggugat pemerintah, dan juga momen pra hingga pasca Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
 
Menurut ICW adanya fenomena tersebut berawal dari narasi tandingan yang mendukung penuh pemerintah dan menolak keras kritik dalam bentuk apapun pada pemerintahan era Jokowi yang dianggap baik-baik saja.
 
Kelompok tersebut menyerang organisasi masyarakat sipil seperti KontraS, YLBHI, dan ICW serta para mahasiswa yang menyuarakan narasi pemakzulan Presiden.
 
Dalam diskusi tersebut mengupas terminologi “Zombie Activism” yang dibawa oleh Defbry Margiansyah yang merupakan peneliti BRIN dan menjadi narasumber dalam diskusi publik tersebut.
 
Defbry menggunakan Term Zombie Activism sebagai salah satu istilah fenomena yang bertalian dengan kemunduran demokrasi serta pembungkaman warga sipil.
 
Menurut Defbry hal tersebut tercermin dalam upaya kontra-narasi dari kelompok lain kepada masyarakat atau CSOs independen dalam menyampaikan narasi pro-rakyat.
 
Para “Zombie” ini menggambarkan orang-orang yang dimobilisasi oleh kelompok kepentingan kekuasaan, demi melanggengkan status-quo dan akses sumber daya.
 
“Penting dipahami secara mendalam bahwa zombie Activism ini adalah salah satu bentuk metode untuk membungkam.” Kata Defbry.
 
ICW juga turut mengundang Asfinawati selaku aktivis dan advokat Hak Asasi Manusia yang juga fokus dalam isu-isu demokrasi.
 
Asfinawati mengungkapkan dalam konteks demokrasi di Indonesia saat ini “pertarungan kesan” menjadi sangat penting. “Zombie-zombie ini di pakai untuk menunjukan demokrasi kita (terkesan) baik-baik saja.” Paparnya.
 
Dia mengatakan, bahwa untuk melawan problem tersebut, masyarakat perlu mengetahui arena pertarungan virus zombie ini untuk melawan dan mencegah semakin besarnya dampak buruk yang terjadi.
 
Sementara, menurut Delpedro Marhaen yang juga menjadi narasumber diskusi tersebut, fenomena zombie activism ini sebenarnya lebih kompleks dari sebatas konflik horizontal. 
 
Dia menyampaikan bahwa Zombie activism yang sebelumnya dikatakan sebagai aktivis atau kelompok yang menyerang kelompok masyarakat pro demokrasi, juga terlihat indikasi transaksi dalam gerakan delegitimasi demokrasi ini.
 
 “Sebenarnya kita semua mungkin bukan anti terhadap suara yang berbeda, tetapi yang menjadi titik persoalannya adalah adanya suara yang dimobilisasi dan itu berbasis transaksional kemudian diupayakan untuk mendelegitimasi gerakan demokrasi” ujar Delpedro.
 
Delpedro menyampaikan bahwa terdapat industri besar yang memobilisasi kelompok ini, dan terdapat aktor dan pola yang sama dalam demo-demo yang menyasar kelompok masyarakat sipil pro-rayat belakangan ini.
 
Ravina Isnar mahasiswa STHI Jentera melihat fenomena Zombie Activism dan pelemahan demkorasi di Indonesia ini sebagai autokritik untuk masyarakat yang masih sadar dan belum terpapar virus tersebut untuk tetap membangun dialog di ruang publik. 
 
“Sebenarnya, masyarakat yang terpapar dalam fenomena ini juga termanipulasi oleh penguasa. Meminjam narasi zaman sekarang ini istilahnya kita terjebak toxic relationship yang dibuat oleh penguasa.” Kata Ravina.
 
Sumber: ICW

Editor: Budi Parabola

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X