Stonehenge Adalah Monumen Prasejarah yang Sulit Untuk Difahami

Photo Author
Sudirga Mandala, Rekomkita
- Minggu, 12 Mei 2024 | 05:47 WIB
Stonehenge adalah monumen prasejarah yang berada di Wiltshire,Inggris.  (Istock)
Stonehenge adalah monumen prasejarah yang berada di Wiltshire,Inggris. (Istock)

Stonehenge adalah monumen prasejarah yang berada di Wiltshire,Inggris. Stonehenge berupa batu-batu berdiri dan bercincin yang beratnya bisa mencapai 25 ton. Para peneliti memperkirakan batu tersebut berasal dari tahun 3000 SM.

Situs ikonik ini telah membingungkan para peneliti selama berabad-abad karena tujuan sebenarnya dari Stonehenge tetap sulit dipahami. Namun, penemuan arkeologi baru-baru ini, seperti situs pemakaman terdekat dan monumen Tembok Durrington sedikit membuka petunjuk baru tentang sejarah Stonehenge dan masyarakat yang membangunnya.

Terdapat pertikaian mengenai usia sebenarnya lingkaran batu tersebut, tetapi kebanyakan arkeolog memperkirakan bahwa bangunan tersebut didirikan antara 3.000 SM hingga 2.000 SM.

Baca Juga: Punya Pengalaman di Pemerintahan dan DPRD, H Asri AG Siap Memimpin PALI 5 Tahun Kedepan

Pada tahun 2008, penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa batu pertama didirikan antara 2400 hingga 2200 SM.[2] Sedangkan teori lain mengindikasikan bahwa batu biru (bluestone) didirikan sekitar 3.000 SM.

Gundukan tanah dan parit berbentuk melingkar yang ada di sekitarnya, merupakan penanda mengenai tahapan awal pembangunan monumen tersebut. Penanggalan yang didapat dari fitur tersebut adalah sekitar 3.100 SM.

Situs Stonehenge dan lingkungan di sekitarnya ditambahkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986 bersamaan dengan Avebury Henge.

Stonehenge berasal dari kata Stone dan Henge. Stone berarti batu, sedangkan Henge berarti lingkaran. Arkeolog mendefinisikan henge sebagai tembok tanah yang berbentuk melingkar dan terdapat parit di dalamnya.

Baca Juga: Team Tyler Glockner Mengungkap Temuan Aneh Melalui Situs Web NASA

Pada awal abad ke-20, kebanyakan dari batu-batu itu tidak lagi berdiri tegak. Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya wisatawan yang menaiki Stonehenge pada sekitar abad ke-19 karena keingintahuan mereka yang besar.

Semenjakitu, telah dilakukan tiga tahap renovasi untuk menegakkan kembali batu yang miring atau terbalik, dan untuk mengembalikan batu-batu tersebut ke tempat semula dengan teliti.

Editor: Sudirga Mandala

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kapolda Bangka Belitung Serius Berantas Geng Motor

Rabu, 15 Januari 2025 | 12:28 WIB

Terpopuler

X