Syekh Magelung Sakti Gondrong Sejak Lahir, Dan Berkelana Mencari Yang Bisa Memotong Rambutnya.

Photo Author
Sudirga Mandala, Rekomkita
- Senin, 1 Juli 2024 | 09:51 WIB
Syekh Magelung (Sejarah Umum)
Syekh Magelung (Sejarah Umum)

REKOMKITA - Syekh Magelung sakti dalam cerita dan tradisi Cirebon disebutkan sebagai seorang laki-laki Mesir yang gondrong sejak lahir, sumber lain ada yang menyatakan dari negri Syam. Beliau dikisahkan berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain demi untuk mencari seseorang yang mampu memotong rambut gondrongnya, ia sendiri dan bahkan guru-gurunya tidak mampu memotong rambut panjangnya.

Kasus Syekh Magelung sakti ini mirip dengan kasus bocah gimbal di lereng gunung Dieng, dimana rambut bocah gimbal tersebut tidak boleh sembarangan memotongnya, sebab jika dipotong dengan tanpa perhitungan yang matang bisa menyebabkan sakit atau bahkan bisa menyebabkan kegimbalan rambut bocah yang bersangkutan semakin menjadi-jadi.

Tidak ada kejelasan mengenai siapa nama asli dari Syekh Magelung Sakti, nama Syekh Magelung sakti sendiri sebenarnya merupakan julukan yang mempunyai maksud adalah seorang Syekh (kiai) yang memiliki rambut panjang yang digelung. Dan karena rambut panjangnya tersebut kebal atau tidak mempan dicukur maka untuk kemudian dikatakan sakti.

Kelainan yang di alami oleh Syekh Magelung Sakti ini pada nyatanya membuat beliau tak nyaman, dari rasa ketidak nyamanan itu beliau kemudian meninggalkan negeri Mesir untuk berkelana mencari seseorang yang sanggup memotong rambutnya. Namun, setiap negeri yang ia datangi belum ada satu orangpun yang sanggup dan bisa memotong rambut panjangnya.

Baca Juga: Alasan Betrand Peto Selalu Habiskan Uang Jajan Sekolah Buat Ruben Onsu dan Sarwendah Terharu Sekaligus Lucu

Kisah pengembaraan Syekh Magelung Sakti ini kemudian terhenti di daerah yang bernama Cirebon, sebab ketika beliau menginjakan kaki di Cirebon ternyata Sunan Gunung Jati mampu memotong rambut Gondrongnya, beliau pun kemudian berguru kepada Sunan Gunung Jati.

Setelah menjadi murid Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung Sakti dikisahkan banyak membantu kemajuan Kesultanan Cirebon. beliau kemudian diangkat oleh Sultan Cirebon menjadi penguasa di Desa Karang Kendal sebagai hadiah dari jasa-jasanya, dan setelah menjabat sebagai penguasa Karang Kendal, beliau juga kemudian dikenal dengan nama Pangeran Karang Kendal.

Ada kisah menarik seputar kedatangan Syekh Magelung Sakti. Beliau mendarat di Cirebon, ketika Nyimas Ganda Sari sedang melakukan Sayembara untuk mencari Suami.

Nyimas Gandasari dalam sejarah Cirebon dikenal sebagai murid sunan Gunung Jati yang rupawan, selain rupawan beliau juga dikisahkan mewarisi Ilmu Agama dan kedigdayaan dari gurunya, akan tetapi beliau selama hidupnya memilih menjadi prawan sunti, pernah memang suatu ketika Nyimas Gandasari mengadakan sayembara dalam bentuk duel adu kesaktian untuk mencari Suami, tapi tak ada satupun yang mampu menandinginya.

Dalam Sayembara itu Nyimas Gandasari menantang para pembesar di wilayah Kesultanan Cirebon untuk bertarung dengannya. Bagi yang mampu mengalahkannya maka imbalannya dijadikan suaminya.

Dalam Sayembara ini dikisahkan tidak ada satupun para pembesar Cirebon yang mampu mengalahkannya. Syekh Magelung sakti yang pada waktu itu kebetulan sedang menyaksikan Sayembara itu kemudian beliau ikut terjun ke medan laga, beliau pun dikisahkan mampu mengalahkan Nyimas Gandasari.

Kesaktian Nyimas Gandasari sebenarnya bukan tanpa tanding, terbukti dari dikalahkannya Nyimas Gandasari oleh seorang pemuda Gondrong dari Mesir, namun pemuda gondrong tersebut rupanya bukan tipe pria idamannya.

Karena merasa Syekh Magelung Sakti sebagai tamu yang tak diundang, Nyimas Gandasari menolak untuk dinikahi Syekh Magelung Sakti, meskipun ia mampu mengalahkannya.

Dalam masa-masa kisruh inilah kemudian Sunan Gunung Jati yang tak lain merupakan Guru dari Nyimas Gandasari datang untuk menengahi.

Menurut legenda yang berkembang, Ganda Sari itu sebenarnya bukan nama sebenarnya namun merupakan julukan, karena memang beliau ini dikisahkan sebagai seorang wanita yang bersih, dan suka sekali menggunakan wewangian, sehingga harum tubuhnya itu semerbak berlipat-lipat, sebab memang dalam Bahasa Cirebon kata Ganda bermaksud berlipat, sementara Sari bermaksud mewangi.

Halaman:

Editor: Sudirga Mandala

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kapolda Bangka Belitung Serius Berantas Geng Motor

Rabu, 15 Januari 2025 | 12:28 WIB

Terpopuler

X