REKOMKITA - Hampir tiap minggu warga Desa Betung Abab (Barat, induk dan selatan) ada yang meninggal dunia. Fenomena tersebut adalah hal yang wajar tentunya sebagai suatu siklus demografi. Apalagi penduduk warga Desa Betung Abab (Betung Barat, Selatan, dan induk) ditaksir mencapai 7000 jiwa mata pilih.
Ketersediaan lahan pemakaman di Desa Betung Abab bisa dikatakan sesuatu yang urgent, mengingat semakin sempitnya lahan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Betung.
Desa Betung Abab sendiri sebenarnya memiliki beberapa lokasi TPU seperti di Jalan raya Desa Betung-Karang Agung atau samping makam pahlawan dan TPU di kawasan Tumbang Dagang Betung induk.
Pantauan rekomkita di lapangan, terlihat lahan pemakaman di TPU samping makam pahlawan semakin sempit hingga telah sampai ke tembok batas TPU.
"Pacak be lah saling tindih. Tapi aman ade kain putih dipindahke wang biaso e," ujar salah satu warga yang sedang membersihkan makam keluarganya.
Informasi yang didapat, menurut salah satu warga Desa Betung Abab yang enggan namanya dimuat, pemerintah desa telah berupaya untuk menambah luas areal pemakaman. Namun, hingga kini belum terealisasi.
"Termasuk ada salah satu tokoh masyarakat yang darmawan yang siap menghibahkan lahan kebunnya untuk lokasi TPU. Namun kabarnya selalu ditolak warga dekat lokasi," ceritanya.
Dia meminta agar para stakeholder atau pemangku kepentingan seperti Tiga Kepala Desa untuk terus berupaya mencarikan win win solution agar lokasi TPU baru ada di wilayah Betung Abab.
"Niat baiknya sudah ada, mungkin usahanya kurang maksimal. Sehingga hasilnya masih nihil," katanya.
Lulusan Universitas Sriwijaya itu juga mengingatkan, kehadiran TPU baru di Desa Betung Abab adalah sesuatu yang mendesak sekali.
"Karena ini bisa jadi boom waktu yang menimbulkan dampak sosial di tengah-tengah masyarakat. Jangan sampai nanti kuburan atau pemakaman itu ada dimana-mana. Sehingga tidak baik pada tata ruang desa yang diwariskan kepada kita", ujarnya.