Gede menjelaskan, hal tersebut dengan mengurangi jumlah makan satwa, dengan laporan pertanggungjawabannya direkayasa dan dibuat seolah sesuai.
"Karena salah satu modusnya adalah tentang pakan binatang, ya. Pakannya ada dikurangi," sebut Gede.
"Artinya pertanggungjawabannya dibuat ada, tapi dibuat dengan sebenarnya dengan mark up," sambungnya.
Selain merugikan keuangan negara, praktik lancung itu juga berdampak pada kondisi Kebun Binatang Surabaya yang dinilai tidak terawat dengan baik.
Bahkan, akibat dana pakan satwa yang dikurangi, diduga membuat sebagian satwa di Kebun Binatang Surabaya itu mati akibat kelaparan.
"Selain merugikan kerugian keuangan negara juga ini membuat wahana Kebun Binatang Surabaya yang kita cintai ini menjadi tidak berkembang karena yaitu dalam pengelolaan keuangannya," ungkap Gede.
"Mengakibatkan fasilitas tidak terawat dengan baik, kotor, rusak, hewan-hewan juga berdampak pada kurang sehat, kemudian kurus, cenderung mati, dan tidak terdapat perawatan yang baik," tandasnya.