Sumpah Raden Patah, Kelak Ia Akan Mendirikan Masjid yang Tidak Akan Berubah Menjadi Kuil Memujaan

Photo Author
Sudirga Mandala, Rekomkita
- Sabtu, 25 Mei 2024 | 10:35 WIB
Raden Patah (Sejara Cirebon)
Raden Patah (Sejara Cirebon)

 

Pada saat menjadi seorang Pemuda Raden Patah memilih mengembara menyusuri tanah Jawa, tanah leluhur ayahnya Bre Kertabumi untuk mengadu peruntungan, di Palembang ia dikabarkan menolak dijadikan Adipati menggantikan ayah angkatnya, mungkin Raden Patah Sadar bahwa ia tiada berhak atas tahta itu, sebab ia bukan anak biologis sang Adipati.

Dalam pengembaraannya dari Palembang ke Jawa, pertama-tama ia menuju Semarang, sebab kala itu Semarang merupakan salah satu Pelabuhan besar milik Kerajaan Majapahit yang aksesnya mudah ditempuh dari Palembang.

Baca Juga: Kisah Sopyah yang Rela Berpenampilan Seperti Laki-Laki Demi Bekerja Menjadi Kuli untuk Menghidupi Adiknya

Selepasterombang-ambing dalam kapal selama berminggu-minggu akhirnya Raden Patah dan adiknya sampai juga di Semarang.

Dalam catatan Kuil Sam-Po-Kong sebagaimana yang dikutip Slamet Muljana (2005;91), disebutkan bahwa Jin Bun (Raden Patah) dan Kin San (Raden Hasan) berangkat ke Pulau Jawa pada tahun 1474. Keduanya mendarat di Semarang.

DiKota itu keduanya mengunjungi Masjid yang dahulu dibangun oleh leluhurnya Sam-Po-Kong (Cengho). Namun sesampainya di Masjid itu, ternyata didalamnya terdapat Patung Sam-Po-Kong.

Baca Juga: Pernikahan Unik Dari Dua Sejoli yang Cosplay Menjadi Dua Karakter Animasi

Masjid itu telah berupah menjadi Kuil, leluhurnya Ceng Ho dipuja, bahkan disembah, dalam keadaan ini Raden Patah menangis sejadi-jadinya, ia meratap di depan Patung Cengho.

Selepas peristiwa itu ia bersumpah dan berdoa, kelak ia akan mendirikan Masjid yang tidak akan berubah menjadi kuil pemujaan (Klenteng).

Masih dalam catatan Kronik Cina Kuil Sam-Po-Kong disebutkan bahwa setelah berguru selama satu Tahun di Ampel, Raden Patah kemudian membuka lahan kosong di daerah berawa yang letaknya di sebelah timur Semarang tepatnya di Kaki Gunung Muria pada tahun 1475, ditempat itu ia membangun Pesantren dan mendidik santri-santrinya dengan ilmu Agama, kemiliteran dan kenegaraan, ilmu yang dahulu ia peroleh dari Sunan Ampel dan ayah angkatnya.

Kelak, 3 tahun kemudian Raden Patah berhasil mendirikan Masjid yang ia impi-impikan yaitu Masjid yang nantinya tidak akan berubah menjadi kuil penyembah dirinya, Masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Agung Demak.

Editor: Sudirga Mandala

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kapolda Bangka Belitung Serius Berantas Geng Motor

Rabu, 15 Januari 2025 | 12:28 WIB

Terpopuler

X