Sultan Nuku atau Sultan Muhammad Amiruddin saat kecil dinamai “Kaicil Syaifuddin”, adapun gelar yang disandangnya pada saat menjadi Sultan Tidore adalah Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan” Rakyatnya lebih senang memanggilnya Sultan Nuku atau Jou Barakati, yang mempunyai maksud “Sultan (tuan) yang diberkahi”.
Sultan Nuku merupakan anak dari Sultan Jamaluddin, pada saat ayahnya memerintah (1757–1779) Negerinya Tidore telah dikuasai Belanda sehingga kebijakan Kerajan dikendalikan Belanda. Pada zaman itu Tidore tidak lagi memiliki wibawa dan kemerdekaan.
Pada tahun 1779 Sultan Jamaluddin wafat, Belanda mulanya berniat menghapuskan waris keturunan Jamaluddin untuk menduduki tahta Kesultanan, sehingga Belanda mengangkat seseorang dari luar keturunan raja-raja Tidore untuk menduduki tahta.
Baca Juga: Sumpah Raden Patah, Kelak Ia Akan Mendirikan Masjid yang Tidak Akan Berubah Menjadi Kuil Memujaan
SultanTidore yang bukan dari Keturunan Sultan-Sultan Tidore sebelumnya itu dikenal dengan nama “Patra Alam”.
Dalam upaya merebut kekuasaan di Kesultanan Tidore dan mengusir Belanda, Nuku meniru taktik Belanda, yaitu menggunakan politik adu domba. Yang di adu domba oleh Nuku adalah Inggris dan Belanda.
Kala itu, di Maluku banyak pedagang Inggris yang berkepentingan di Maluku, mereka mencari rempah-rempah untuk dijual di wilayah jajahan mereka dan Eropa.
Nuku bersama pengikutnya yang sebelumnya mempelajari bahasa Inggris dan diplomasi mengabarkan kepada orang-orang Inggris bahwa Belanda berencana akan memonopoli seluruh perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Sementara pada pihak Belanda, para pengikut Nuku mengabarkan bahwa Inggris sedang berupaya menggalang kekuatan untuk menguasai Maluku.
Teknik adu domba Nuku rupanya berhasil membuat Belanda dan Inggris bersitegang di Maluku, Armada Inggris dan Belanda saling serang di laut Maluku sehingga menyebabkan kerugian pada kedua belah pihak.
Disisi lain, merasa kegiatan perdagangannya terancam, orang-orang Inggris mempersenjatai Nuku dengan persenjataan canggih di zamannya. Maka selepas itu Armada laut bentukan Nuku tidak lagi dianggap remeh, karena memiliki persenjataan paling mutakhir di zamannya.
Pada tahun 1796, pasukan Nuku berhasil merebut dan menguasai Pulau Banda. Setahun kemudian, mereka mampu merebut Ibukota Kesultanan Tidore dan membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate.
Dengan direbutnya Ibu Kota Kesultanan maka rakyat Tidore secara bulat menunjuk Nuku Muhammad Amiruddin menjadi Sultan Tidore.
Selepas diangkat menjadi Sultan, Nuku tidak serta merta mengendorkan perjuangannya, ia terus menggempur kekuatan Belanda di Ternate hingga pada tahun 1801 Ternate dapat dibebaskan dari cengkraman Belanda. Maka Mulai Selepas itu Tidore dan Ternate menjadi wilayah kekuasaannya dan dinyatakan terbebas dari penjajahan Belanda.