REKOMKITA- Melakukan interaksi sosial di tengah simpul-simpul masyarakat adalah sesuatu yang nampak sepele, namun hal tersebut tentunya hal penting untuk kita lakukan.
Interaksi sosial sebenarnya beragam cara dan bentuknya. Mulai dari yang nampak sederhana atau hal ringan hingga suatu perbuatan yang menuntut kita untuk berkorban baik materi maupun sumber daya tenaga.
Salah satu contoh interaksi sosial di lingkungan kita yang sederhana, seperti sekedar ngobrol santai dengan para tetangga dan saling tegur sapa saat bertemu di jalanan.
Sementara, bentuk interaksi sosial yang membutuhkan baik sumber daya tenaga dan materi seperti ikut memberikan sumbangan bagi warga di lingkungan kita yang sedang terkena musibah baik musibah sakit maupun kematian. Serta ikut serta dalam perbaikan fasilitas umum yang membutuhkan kegotongroyong dalam masyarakat.
Seorang filsuf terkemuka Aristoteles menyebut jika manusia itu selain mahkluk individu juga merupakan mahkluk sosial (Zoon Politicon) yang tak lain memiliki pengertian bahwa manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang selalu berhubungan dan membutuhkan bantuan dan pertolongan manusia lainnya.
Andai semua orang di dunia ini adalah pengusaha, lantas siapa lagi yang ingin menjadi pekerja, andai semua orang di dunia ini adalah pejabat, lantas siapa lagi yang mau menjadi rakyat jelata. Demikianlah perputaran sebuah roda kehidupan. Tuhan yang maha ESA menciptakan sebuah perbedaan di antara manusia agar roda-roda kehidupan bisa berputar.
Kembali lagi ke pembahasan kita awal pentingnya melakukan suatu interaksi sosial. Interaksi sosial yang kita lakukan dalam suatu lingkungan masyarakat tentunya akan menambah keakraban hingga pada akhirnya secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa empati dan rasa saling menjaga serta memiliki antar sesama anggota masyarakat.
Hal tersebut tentunya juga berdampak pada kokohnya persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa sehingga sulit terjadinya disintegrasi bangsa yang kita khawatirkan bersama, lantaran pondasi yang mengangkar dari level dan unit tingkatkan terbawa yakni pada simpul-simpul masyarakat.
Pernahkah kita berada pada suatu komplek perumahan di perkotaan yang biasanya para warga kurang membaur atau melakukan interaksi sosial. Tentunya kondisi tersebut tidak membuat kita nyaman, bahkan cenderung was was lantaran sikap yang acuh tak acuh dari kalangan warga.
Kondisi tersebut berbeda jauh misalnya di sebuah perkampungan yang masyarakatnya hidup berdampingan, interaksi sosial yang intens dengan teguh memegang sikap bergotong royong. Maka wajar jika ada semacam anggapan "Lebih baik hidup di desa daripada tinggal di perkotaan" ini menandakan betapa tingginya nilai dari sebuah interaksi sosial itu.
Artikel Terkait
Cuti Kelahiran Bagi ASN Pria Dianggap Hal Penting oleh Pemerintah, Begini Alasannya!
Kabar Gembira, PT Jasa Raharja Buka Lowongan Kerja Bagi Fresh Graduate Tahun 2024
Dua Jembatan Penghubung Wilayah Sumsel dan Lampung Direncanakan akan Dibangun, Berikut Titik Lokasinya!
Menelisik Penyebab Dualisme Kepengurusan di Tubuh KNPI Kabupaten Muara Enim yang Buat Bingung
Musim Ngetam atau Musim Panen Padi di Betung Sedang Marak
Peluang Terbuka Lebar, Berikut Skema Timnas Indonesia Agar Bisa Tampil di Piala Dunia 2026
Honorer di Kabupaten PALI Berakhir Desember 2024, BKPSDM PALI Jelaskan Skema Perekrutan ASN
Sejarah Pertama Kalinya dalam 10 Tahun dan di Usia 40 Tahun Han Song-i Menjadi Saksi Hidup Sejarah V-League
18 Desa di Kecamatan Rantau Bayur Lumpuh Akibat Banjir, SKK Migas - KKKS Sele Raya Belida Salurkan Bantuan, Berikut Rinciannya!
SMA AMANIYAH BETUNG Adalah Sekolah Pertama yang ada di Abab yang Banyak Tidak Diketahui Masyarakat Abab