REKOMKITA- Salah satu Anggota DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Mulyadi memberikan masukan agar tradisi Pesereh untuk dihidupkan kembali di simpul-simpul masyarakat Desa Betung Abab.
Menurut anggota DPRD PALI, Mulyadi, tradisi Hantaran yang saat ini banyak dilakukan oleh warga khsususnya Desa Betung Abab saat akan melangsungkan pernikahan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.
"Hantaran itu kurang manfaatnya, kasihan bagi yang tidak punya sebelah lanang. Balike pecak lame bae besirih. Kadang yang kawin tidak melanggar adat atau kualat malah yang kawinnye sederhana kadang jadi wang iluk," ujar Anggota DPRD PALI dari Fraksi PDIP itu, Sabtu, 13 April 2024.
Wakil rakyat dari asal Desa Betung itu, berpesan agar masyarakat tidak terpedaya oleh adat atau tradisi.
"Jangan terbedaya oleh adat, asek senang sejoros, dem itu menyut kepala orang tuanya," Celotehnya.
Mulyadi, menceritakan kisahnya saat dulu melakukan resepsi pernikahan yang jauh dari kesan konsumtif namun sangat sederhana.
"Kalau resepsi besok besoan dak ape, tapi waktunya ringkas. Aku bae idak resepsi padahal aku lagi dang jadi DPRD kaluh nak resepsi , tapi kasihan. Yang bakal bantu aku, utang ari wang lumayan banyak kaluh nak ditagih," ceritanya.
Mulyadi menekankan, pentingnya untuk kembali ke tradisi Pesereh seperti yang dilakukan masyarakat Desa Betung 2-3 tahun yang lalu. Dengan begitu, pengantin yang baru membina rumah tangga diharapkan cepat berkembang, lantaran tidak meninggalkan hutang piutang terlalu besar.
"Setelah jadi masuk arisan bayo utang. Jadi lamek baru pacak bekembang penganten tadi," katanya.
Untuk diketahui, adat hantar-hantaran di Desa Betung Abab sendiri merupakan tradisi baru yang mengadopsi adat perkotaan. Dalam proses hantar-hantaran ini, calon mempelai laki-laki bisa menghabiskan biaya Rp5-10juta loh...!
Apalagi jika barang hantar-hantaran atau seserahan yang dibawa jumlahnya sangat banyak dengan dikemas secara mewah, ditaksir bisa menghabiskan biaya Rp10-20 juta rupiah.
Kondisi tersebut, sangatlah jauh dari praktek tradisi Pesereh yang merupakan adat istiadat masyarakat Desa Betung Abab sejak dahulu, yang nampak sederhana. Dimana, dalam momen tersebut biasanya si keluarga calon pengantin pria hanya membawa makanan seperlunya saja, seperti gula, kopi, kue Bolu dan makanan ringan lainnya untuk disantap bersama.
Artikel Terkait
Pohon Besar di TPU Betung Abab Kembali Terancam Roboh, Kondisinya Tragis!
Adat Pernikahan di Desa Betung Abab yang Unik
Apa Itu Belarien.? Belarien Adat Betung Abab Yang Hampir Punah Oleh Perkembangan Zaman dan Dinilai Tidak Sopan
Mata Pencarian Masyarakat Desa Betung Abab Apa Sih ?
Salah Satu Anak Muda Desa Betung Abab yang Memiliki Segudang Prestasi Bikin Pembaca Tercengang !
Ada yang Tau Apa Itu Mantang ? Tak Asing Bagi Masyarakat Desa Betung Abab
Desa Betung Abab Sudah Terpecah Belah, Apa penyebabnya ?
Warga Betung Abab Shalat IED Berjamaah di Lapangan Kantor Camat Abab yang Dihadiri oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten PALI M. Budi Khoiru, S.Hi
TPU Betung Abab Ramai Dikunjungi Oleh Warga dari Berbagai Daerah yang Ingin Berziarah ke Makam Sanak Saudaranya
Pesereh, Sekapur Sirih, atau Lamaran Adat Betung Abab Zaman Dulu Sebelum Dimodernkan Manjadi Hantar-hantaran