REKOMKITA- Tradisi memasak lemang (Melemang) banyak dilakukan oleh masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia.
Tradisi memasak lemang (Melemang) misalnya, ada di masyarakat Kabupaten Kaur. Dimana, tradisi ini dilakukan saat Bulan Ramadan, lebaran, pernikahan dan panen padi.
Memasak lemang (Melemang) juga menjadi salah satu bagian dari budaya pernikahan masyarakat Besemah di Padang Guci Hulu dan Padang Guci Hilir serta pada masyarakat Semende di Muara Sahung. Dimana lemang dijadikan sebagai pelengkap dalam pernikahan secara adat.
Tradisi memasak lemang (Melemang) ada juga di Desa Karang Raja, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Dimana, tradisi melemang dilakukan setiap hari Asyura atau 10 Muharram setiap tahunnya. Tradisi memasak lemang di Desa Karang Raja sendiri konon sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam.
Bahkan, tradisi memasak lemang di Desa Karang Raja disambut dengan begitu antusiasme oleh warga yang biasanya juga dihadiri oleh Bupati Muara Enim.
Baca Juga: Wele-Wele, Laos Dapat Kucuran Dana Hibah Rp6,5 Miliar dari Indonesia, Berikut Peruntukannya!
Lantas apa c... makna dari memasak lemang? Melansir artikel yang ditulis, M Arif Efendi Pranata dari Biro Humas Data dan Informasi, Setjen Kemenag RI yang mengupas perihal nikmat ‘Lamang’ disaat Mudik Lebaran di Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat.
Memasak Lemang (Melemang) atau Tradisi ma-lamang merupakan suatu budaya yang diwariskan secara turun temurun dan berkembang di lingkungan masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman (sebagian besar Sumatera).
Memasak lemang terkesan hanya merupakan proses atau cara memasak lamang (lemang) dengan menggunakan media bambu yang kemudian di bakar di atas bara api. Namun, tradisi ma-lamang tidak hanya soal kemahiran memasak lemang, namun tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai dan sejarah yang membuat tradisi ini bertahan di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Padang Pariaman.
Semarak tradisi ma-lamang, biasanya akan terasa pada peringatan hari-hari besar Islam, yakni menjelang bulan Ramadan, lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha), peringatan Maulid Nabi, baralek (pesta pernikahan), peringatan hari kematian, dan sebagainya.
Mayoritas masyarakat Pariaman menganggap, sejarah tradisi Ma-Lamang tidak dapat dilepaskan dari peran dan perjuangan Syekh Burhanuddin untuk menyiarkan agama Islam di Minangkabau.
Memasak lemang atau Ma-lamang dapat dikatakan metode dakwah yang digunakan oleh Syekh Burhanuddin untuk mengajarkan perbedaan makanan halal dan haram dalam ajaran Islam kepada masyarakat di daerah Ulakan, Padang Pariaman. (baca : Refisrul, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 3 : 2017).
Secara filosofis, tradisi ma-lamang juga menggambarkan nilai-nilai gotong royong dan semangat kebersamaan. Hal ini tergambar ketika saat ma-lamang hendak tiba, pada pagi hari, masyarakat yang terdiri dari laki-laki dewasa dan beberapa anak yang diajak membantu pergi mencari bambu dan kayu bakar untuk memasak lamang.
Di rumah, para ibu-ibu dibantu oleh anak perempuan mereka di setiap rumah mulai memasak bahan-bahan untuk isian lamang. Setelah bambu dan kayu bakar sudah didapat, bahan-bahan tadi dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar pada sore hingga malam harinya.
Nah, kira-kira makna dari tradisi memasak lemang di daerah kamu apa ya??
Artikel Terkait
Wouter Goes Dinobatkan Pemain dengan Performa Terbaik Liga Belanda
Sekolah Buka di Hari Raya Idul Fitri, 6 Siswa Tewas Kecelakaan, Sopir hingga Kepsek Ditangkap Polisi
Pernyataan TPNPB Soal Penembakan Danramil Aradide di Papua, hingga Sebut Pelaku Penembakan
Media Vietnam Menyoroti Pelatih Shin Tae-Yong Membagikan THR kepada Anggota Timnas Indonesia U23
Asyik, Pemerintah Akan Berlakukan WFH dan WFO pada 16-17 April Bagi ASN