Mengenal Makna Tradisi Melemang Saat Mudik Lebaran di Sumatera Barat

Photo Author
Budi Parabola, Rekomkita
- Sabtu, 13 April 2024 | 10:36 WIB
Makna Tradisi Melemang saat mudik lebaran di Sumatera Barat  (Instagram)
Makna Tradisi Melemang saat mudik lebaran di Sumatera Barat (Instagram)
 
REKOMKITA- Tradisi melemang ternyata tidak hanya ada di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Akan tetapi tradisi melemang juga ada di Sumatera Barat.
 
Bedanya, tradisi melemang di Kabupaten Muara Enim dilakukan pada 10 Muharram atau tahun baru islam.
 
Sementara, tradisi melemang di Sumatera Barat dilakukan saat masyarakat melakukan mudik lebaran atau pulang ke kampung.
 
 
Melansir artikel yang ditulis, M Arif Efendi Pranata Humas pada Biro Humas Data dan Informasi, Setjen Kemenag RI yang mengupas perihak nikmat ‘Lamang’ disaat Mudik Lebaran.
 
Melemang atau Tradisi ma-lamang merupakan suatu budaya yang diwariskan secara turun temurun dan berkembang di lingkungan masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman (sebagian besar Sumatera).
 
Melemang atau ma-lamang terkesan hanya merupakan proses atau cara memasak lamang (lemang) dengan menggunakan media bambu yang kemudian di bakar di atas bara api.
 
Padahal, tradisi ma-lamang tidak hanya soal kemahiran memasak lemang, namun tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai dan sejarah yang membuat tradisi ini bertahan di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Padang Pariaman. Semarak tradisi ma-lamang, biasanya akan terasa pada peringatan hari-hari besar Islam, yakni menjelang bulan Ramadan, lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha), peringatan Maulid Nabi, baralek (pesta pernikahan), peringatan hari kematian, dan sebagainya.
 
Sebagian besar masyarakat Pariaman menganggap, sejarah tradisi Ma-Lamang tidak dapat dilepaskan dari peran dan perjuangan Syekh Burhanuddin untuk menyiarkan agama Islam di Minangkabau.
 
Ma-lamang dapat dikatakan metode dakwah yang digunakan oleh Syekh Burhanuddin untuk mengajarkan perbedaan makanan halal dan haram dalam ajaran Islam kepada masyarakat di daerah Ulakan, Padang Pariaman. (baca : Refisrul, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 3 : 2017). Secara filosofis, tradisi ma-lamang juga menggambarkan nilai-nilai gotong royong dan semangat kebersamaan.
 
Hal ini tergambar ketika saat ma-lamang hendak tiba, pada pagi hari, masyarakat yang terdiri dari laki-laki dewasa dan beberapa anak yang diajak membantu pergi mencari bambu dan kayu bakar untuk memasak lamang.
 
Di rumah, para ibu-ibu dibantu oleh anak perempuan mereka di setiap rumah mulai memasak bahan-bahan untuk isian lamang. Setelah bambu dan kayu bakar sudah didapat, bahan-bahan tadi dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar pada sore hingga malam harinya.

Editor: Budi Parabola

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Adat Pernikahan di Desa Betung Abab yang Unik

Selasa, 2 April 2024 | 12:38 WIB

Misteri Candi Borobudur yang Belum Terpecahkan !

Minggu, 31 Maret 2024 | 23:33 WIB

Terpopuler

X