REKOMKITA- Anggota DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Mulyadi menyoroti tradisi resepsi pernikahan yang ada di Kecamatan Abab khususnya di Desa Betung Abab (Betung Barat, Induk dan Selatan).
Anggota DPRD Kabupaten PALI, Mulyadi yang juga putra asli Desa Betung Abab itu, mengutarakan, jika tradisi resepsi dalam pesta hajatan perlu dilakukan evaluasi untuk disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekarang.
"Ade usulan buah pemikiran baru lagi, tradisi lelang ayam tidak tepat lagi dengan kemajuan saat ini karena saya anggap memberatkan banyak pihak. Yang pertama tuan rumah sendiri, yang kedua sanak keluarga. Dan yang ketiga para tamu undangan," ujar Anggota DPRD PALI, Mulyadi, Minggu, 14 April 2024.
Wakil rakyat yang kenyang asam garam dalam dunia politik itu, menilai lelang ayam akan berdampak pada kurang meriahnya suatu acara resepsi.
"Karena berdasarkan pantauan di beberapa acara resepsi, lelang ayam menyebabkan kurangnya semarak suatu acara sebagaimana yang diharapkan oleh tuan rumah itu sendiri. Ini merupakan salah satu faktornya, para tamu merasa ada yang dianaktirikan. Hanya yang berduit saja dan bermodal kantong tebal saja yang kebanyakan masuk dan duduk di depan. Sementara yang tidak memiliki cuan banyak merasa minder dan engan masuk dengan alasan nyambut tamu di luar," ceritanya.
Menurutnya, untuk tampil di depan pada suatu acara pesta, hendaknya bukan berdasarkan isi dompet yang tipis. Pasalnya, terkadang warga yang minder tersebut mayoritas adalah sanak dulur yang lebih dekat dibanding para pejabat.
"Lelang lebak lebung maupun tudian itu juga pemboroson waktu untuk acara hiburan," katanya.
"Kemudian yang ngambik lelang lebak lebung itu perasaan pecak oloan dan sombong, saling pangka dipangka. Sebenarnya itu tidak sejalan dengan nurani kita yang tidak oloan," celetuknya.
Faktor lain tradisi lelang ayam dianggap tidak efektif karena tuan rumah harus menyediahkan paket lelang yang nilainya sebenar cukup untuk membiayai sebuah sewaan musik yang kisarannya di atas Rp5 juta (cukup untuk cadangan biaya orgen).
"Saran saya tidak usah menyediahkan paket ayam atau bingkisan untuk lebak lebung dan tudian lagi. Sebab hal itu menimbulkan kesenjangan sosial, pemborosan bagi tuan rumah dan para tamu undangan dan pemborosan waktu," jelasnya.
Politisi PDIP yang sudah beberapa kali duduk menjadi wakil rakyat itu memberikan alternatif jika tradisi tersebut dihapus. Salah satunya agar menyediahkan kotak amplop dan buku tamu di pintu masuk sebagai penggantinya.
"Termasuk kotak dekat pengantin, tahap awalnya kasih undangan dan dilampirakan amplop (tapi kalau sudah terbiasa seperti di daerah lain, tidak perlu dilampiri amplop lagi undangannya orang dapat membelih sediri). Karena percayalah niat orang masuk dan ingin membantu itu idak dipengaruhi oleh ayam atau paket handuk dan sebagainya"
"Kan percuma mengisi amplop Rp50.000 padahal sebenarnya bantuannya tidak sampai sebegitu karena tuan rumah memberikan bingkisan senilai 15.000. Lebih baik para tamu memberikan amplop isi yang sesungguhnya asal benar- benar memang bersih diterima oleh ahli rumah (Dan ini mungkin dicatat sebagai utang hari)," tandasnya.
Artikel Terkait
Intip, Pawai Selamatan Pengiriman Minyak Pertama dari PALI ke Palembang Tahun 1947
Tersimpan Rapih Peta Mata Bor Minyak di Kabupaten PALI Dibuat 1932, Eksplorasi Minyak Sudah Dilakukan Sebelum Indonesia Merdeka
Desa Talang Akar PALI Lokasi Penemuan Sumur Minyak Terbesar di Asia Zaman Kolonial Belanda
Mengenal Tugu atau Monumen Sumur Minyak Pertama dan Terbesar di Asia Tenggara yang Berlokasi di Talang Akar Kabupaten PALI
Hantaran Dinilai Memberatkan, Anggota DPRD PALI, Mulyadi Usul Tradisi Pesereh Kembali Dihidupkan di Tengah Masyarakat Betung Abab