REKOMKITA – Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, namun berbeda dengan adat pernikahan yang ada di Desa Betung Abab Kabupaten Penukal abab Lematang Ilir (PALI) Provinsi Sumatera Selatan.
Menikah adalah sesuatu yang sangat dinginkan oleh semua orang, namun pernikahan di Desa Betung Abab Ini begitu menarik untuk di bahas, kendati tatacaranya yang begitu unik.
Jika membahas tentang pernikahan, tentu tak luput dari mahar ( pinte’an) bahasa daerah setempat. Biasanya mahar itu berupa emas 24 kart, uang tunai, dan mokon. selain mahar ada adat yang sangat unik. Yaitu, tentang akad nikah, mapak dan antar wali (antuali)
Mokon atau bias disebut dengan cendra mata, mokon sendiri berupa mie 1 kardus atau setengah kardus yang dibagikan kepada sanak saudara dan kerabat, setelah mokon dibagikan maka sih penerima akan membalasnya dengan barang ataupun uang, barangnya bias berupa peralatan rumah tangga dan barang elektronik.
Akad nikah, sebelum dilangsungkan akad nikah biasanya kedua pengantin di mandikan disungai atau disiram oleh tetua kedua keluarga, namun dizaman modern ini sangat jarang dilakukan ritual seperti ini dan hamper punah.
mint'e wali (minta wali), bisasanya dilakukan pada hari jum’at, dengan digiringnya pengantin pria ke rumah pengantin wanita dengan diarak dan membawa kujur (tombak) dan membawa mokon, lalu sesampainya pengantin pria di rumah penganti wanita, beberapa seserahan diberikan pada keluarga pengantin wanita, dan mokon tersebut langsung dibagikan kerumah-rumah saudara dan kerabat keluarga pengantin wanita.
Mapak. Mapak merupakan adat arakkan, atau mengarak kedua pengantin dari rumah pengantin wanita menuju rumah pengantin pria, dengan digiring oleh banyak orang seperti, sanak keluarga dan para kerabat beramai-ramai melewati desa sampai kerumah pengantin pria.
Sesampainya di rumah pengantin pria. Para pengantin akan di sambut oleh para tetua mempelai pria, dari atas garang (teras rumah panggung) dan di bawah paying, penganting di siram denga air lidi yang dibakar, dan di hamburi beras kunyit.
Lalu mereka di sambut menaiki rumah dan di stop di garang kemudian disuruh duduk sebelum masuk ke rumah, lalu para tetua keluarga laki-laki memegang ambin (kain gendong) lalu di selubungi ke pundak kedua pengantin dengan do,a, salah satu do,anya adalah “ beranek banyek-banyek” sambil menyelubungi pundak kedua pengantin. Setelah selesai, kedua penganti lalu disuruh masuk ke dalam rumah.