pariwisata-budaya

Hantaran Jelang Pernikahan adalah Tradisi Perkotaan, Bukan Budaya Asli Masyarakat Betung Abab, Perlu Dihapuskan?

Jumat, 19 April 2024 | 18:54 WIB
Hantaran jelang pernikahan adalah tradisi perkotaan, bukan budaya asli masyarakat Betung Abab, perlu dihapuskan? (Gambar ilustrasi)
 
REKOMKITA- Hantar-hantaran yang merupakan budaya luar mulai dipraktikkan oleh sebagian masyarakat di Desa Betung Abab (Barat, Induk dan Selatan) Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
 
Banyak pihak menyebutkan, hantar-hantaran yang saat ini mulai digalakkan oleh warga Desa Betung Abab memberatkan banyak pihak. Salah satunya si calon pengantin pria.
 
Jika didiamkan, tradisi dari masyarakat perkotaan tersebut, dikhawatirkan nantinya membudaya di tengah masyarakat Desa Betung Abab sehingga menggerus tradisi pesereh yang sudah turun temurun ada di simpul-simpul masyarakat Desa Betung Abab.
 
Beberapa pendapat warga soal hantaran
 
Adalah Anggota DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Mulyadi yang memberikan masukan agar tradisi hantaran-hantaran dihapuskan.
 
Wakil rakyat dari Desa Betung Abab itu mengusulkan, agar tradisi pesereh kembali dihidupkan di tengah masyarakat Desa Betung Abab.
 
Pendapat warga perihal Hantaran

"Hantaran itu kurang manfaatnya, kasihan bagi yang tidak punya sebelah lanang. Balike pecak lame bae besirih. Kadang yang kawin tidak melanggar adat atau kualat malah yang kawinnye sederhana kadang jadi wang iluk," ujar Anggota DPRD PALI dari Fraksi PDIP itu, Sabtu, 13 April 2024.

Mulyadi berpesan agar masyarakat Desa Betung Abab tidak terpedaya oleh adat atau tradisi.
 
"Jangan terpedaya oleh adat, asek senang sejoros, dem itu menyut kepala orang tuanya," Celotehnya.
 
Baca Juga: Sejarah Puyang Serampuh atau Puyang Raden Sirah Ampuh Makhdum Sakti Leluhur Masyarakat Desa Betung Abab
 
Dia menceritakan kisahnya saat dulu melakukan resepsi pernikahan yang jauh dari kesan konsumtif namun sangat sederhana.
 
"Kalau resepsi besok besoan dak ape, tapi waktunya ringkas. Aku bae idak resepsi padahal aku lagi dang jadi DPRD kaluh nak resepsi ,  tapi kasihan. Yang bakal bantu aku, utang ari wang lumayan banyak kaluh nak ditagih," ceritanya.
 
Tadisi Pesereh seperti yang dilakukan masyarakat Desa Betung 2-3 tahun yang lalu perlu digalakkan kembali.
 
Pendapat warga
 
Karena akan berdampak positif bagi kedua belah pihak. Pengantin yang baru membina rumah tangga diharapkan cepat berkembang, lantaran tidak meninggalkan hutang piutang terlalu besar.
 
"Setelah jadi masuk arisan bayo utang. Jadi lamek baru pacak bekembang penganten tadi," katanya.
 
Adat hantar-hantaran di Desa Betung Abab sendiri merupakan tradisi baru yang mengadopsi adat perkotaan. Dalam proses hantar-hantaran ini, calon mempelai laki-laki bisa menghabiskan biaya Rp5-10juta loh...! 
 
Apalagi jika barang hantar-hantaran atau seserahan yang dibawa jumlahnya sangat banyak dengan dikemas secara mewah, ditaksir bisa menghabiskan biaya Rp10-20 juta rupiah.
 
Tradisi itu, sangatlah jauh dari praktek tradisi Pesereh yang merupakan adat istiadat masyarakat Desa Betung Abab asli sejak dahulu, yang nampak sederhana. Dimana, dalam momen tersebut biasanya si keluarga calon pengantin pria hanya membawa makanan seperlunya saja, seperti gula, kopi, kue Bolu dan makanan ringan lainnya untuk disantap bersama.

Tags

Terkini

Adat Pernikahan di Desa Betung Abab yang Unik

Selasa, 2 April 2024 | 12:38 WIB

Misteri Candi Borobudur yang Belum Terpecahkan !

Minggu, 31 Maret 2024 | 23:33 WIB