Kasus Penganiayaan Taufik Hidayat Jadi Sorotan, Psikolog Ungkap Cara Mengenali dan Keluar dari Hubungan Toksik

Photo Author
- Minggu, 5 Juli 2026 | 09:20 WIB
Joyce Manurung (kiri), Taufi Hidayat (kanan)  (Foto Dok:)
Joyce Manurung (kiri), Taufi Hidayat (kanan) (Foto Dok:)

Rekomkita.com – Kasus dugaan penganiayaan yang menyeret seorang pria berinisial Taufik Hidayat (TH) terhadap pacarnya, YTR, masih menjadi perhatian publik. Peristiwa yang terjadi di Bandung, Jawa Barat, itu tak hanya menyita perhatian karena dugaan kekerasannya, tetapi juga memicu diskusi luas mengenai bahaya hubungan toksik (toxic relationship).

Saat ini, penyidik Polda Jawa Barat masih mendalami perkara tersebut melalui pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) serta persiapan rekonstruksi utama guna mengungkap secara utuh rangkaian dugaan kekerasan yang terjadi.

Rekonstruksi dijadwalkan kembali digelar pada 2 Juli 2026. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, dugaan tindak kekerasan disebut berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, yakni sejak Mei 2024 hingga Juni 2026.

Baca Juga: BPD Kalasey Dua Tempuh Jalur Hukum, Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Desa 2025 ke Kejaksaan

Kasus ini pun menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih memahami ciri-ciri hubungan yang tidak sehat serta pentingnya keberanian mencari pertolongan.

Dalam tayangan Rumpi No Secret yang dipandu Feni Rose pada 1 Juli 2026, psikolog Joyce Manurung, M.Psi., mengulas pola psikologis yang kerap muncul dalam hubungan penuh kekerasan.

Menurut Joyce, kekerasan dalam hubungan umumnya berlangsung dalam sebuah siklus yang terus berulang. Siklus tersebut dimulai dari fase meningkatnya ketegangan (tension building), kemudian memasuki fase ledakan kekerasan, sebelum akhirnya pelaku kembali menunjukkan sikap penuh perhatian atau dikenal sebagai fase honeymoon.

Baca Juga: Di Hari Bhayangkara ke-80, AW Minta Polda Sulut Bersihkan Singkil dan Mapanget dari Preman

Pola inilah yang sering membuat korban sulit melepaskan diri karena berharap pasangan akan berubah menjadi lebih baik.

Joyce menekankan bahwa langkah pertama untuk melindungi diri adalah melatih kepekaan dalam mengenali perubahan perilaku pasangan. Ketika seseorang mulai melihat tanda-tanda ancaman atau perilaku yang mengarah pada kekerasan, ia harus berani mengambil keputusan untuk menjaga keselamatan dirinya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya membangun kemampuan komunikasi asertif. Menurutnya, setiap orang berhak mengatakan "tidak" terhadap perlakuan yang merendahkan ataupun menyakiti dirinya.

Baca Juga: Sopir Truk Wing Box Diperiksa usai Hantam Belasan Motor saat Lampu Merah di Simpang Unisma Bekasi Timur

Komunikasi asertif bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga menyangkut intonasi suara, bahasa tubuh, hingga keberanian menetapkan batasan terhadap pasangan.

Tak kalah penting, Joyce mengingatkan agar setiap orang memiliki support system yang kuat, baik dari keluarga, sahabat, maupun orang-orang terdekat. Dukungan lingkungan dinilai menjadi faktor penting yang dapat membantu korban keluar dari hubungan yang penuh kekerasan.

Halaman:

Editor: Fransisca Derytharia Salu

Sumber: RK

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X